Utara Update, Putri Hijau (20/01/24) – Seorang Oknum Guru Agama di Bengkulu Utara dilaporkan 24 orang siswi beserta orang tuanya ke Kantor Kepolisian Negara Sektor Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara pada Minggu, 20 Januari 2024.
Ke 24 orang korban melapor ke Polsek Putri Hijau dengan didampingi orang tua, puluhan warga desa dan Fasilitator Daerah PATBM Bengkulu Utara.
Fasda PATBM Bengkulu Utara Ibnu Majah mengatakan, “hari ini kami mendampingi 24 skswi sekolah dasar di wilayah Kecamatan marga sakti sebelat dan juga di dampingi orang tuanya dari 3 desa ke Polsek Putri Hijau.”
“kami mendampingi mereka lantaran mendapat laporan dari orang tua, anak-anak tersebut, bahwa seorang oknum Guru agama inisial He telah melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap 24 orang anak-anak, mulai dari kelas 4 sampai kelas 6, ucap Ibnu Majah.
Ibnu Majah menjelaskan, “Sebelumnya kami kumpul bersama orang tua masing-masing terduga korban dengan pihak wali kelas.”
“kami sebagai Fasda PATBM hanya bisa memberi saran dan masukan, jika ada mau melapor silakan, jika ingin mau konsultasi ke sekolah ya kami siap dampingi, termasuk melapor ke penegak hukum kami siap dampingi karena itu juga merupakan bagian dari tugas kami,” jelas Ibnu Majah.
“Karena jikalau perlakuan ini dibiarkan secara terus menerus, maka akan berakibat pada gangguan psikis anak, terlebih anak-anak ini masih dalam usia pertumbuhan, ujar Ibnu Majah.
Lebih jauh Aktivis/relawan Desa Ramah Perempuan Dan Peduli Anak (DRPPA) ini mengatakan, “seharusnya seorang guru tidak boleh melakukan perbuatan seperti itu, terlebih lagi Oknum (He) adalah seorang guru agama.”
“Harusnya Guru adalah pengayom bagi anak-anak dan merupakan pengganti orang tua dari anak-anak,” kata Ibnu Majah.
“Maka kami meminta kepada pihak kepolisian agar dapat mengusut tuntas kasus tersebut, apa lagi yang menjadi korban sudah sampai 24 orang,” pinta Ibnu Majah kepada Pihak Kepolisian.
“Kami pun nantinya akan meminta Kepala Dinas Pendidikan Bengkulu Utara dan Kepala Kantor Agama Bengkulu Utara untuk dapat menyikapi serius kasus tersebut, ungkap Ibnu Majah.
“karena kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi, dan bila perlu diberikan efek jera terhadap oknum guru mencoreng pendidikan tersebut, tandas Ibnu Majah.
Ibnu Majah menambahkan, “kami sangat menyayangkan pihak sekolah SD yang tidak serius dalam menyelesaikan permasalahan ini, mencari solusi dan efek jera terhadap oknum guru tersebut hanya memanggil anak-anak yang korban saja, tanpa didampingi oleh orang tua masing-masing anak yang menjadi korban.”
“Seharus nya dalam menyelesaikan persoalan tersebut, orang tua di ikutkan juga, kalau sama anak-anak saja, ya pasti kami ada kecurigaan ingin menutupi kasus tersebut,” ujar pria kelahiran suka merindu ini.
“Kami tidak dapat menerima Perlakuan Oknum Guru Agama tersebut, apa lagi saat Oknum He melakukan aksinya, anak-anak kami sedang mengikuti pelajaran agama, ujar salah seorang orang tua korban.
“anak-anak kami di pegang Daerah sensitif (Seperti Payudara), lanjutnya.
” Anak-anak kami mengatakan kejadian tersebut bukan cuma sekali saja dilakukan, akan tetapi sudah berulang kali,” ucapnya.
“Bahkan ketika ada mata pelajaran agama, anak-anak kami tidak mau sekolah, katanya takut sama gurunya,” ungkap orang tua korban yang lain.
“Kami udah sepakat melaporkan ulah bejat Oknum Guru Agama ini kepada Polsek Putri Hijau dan kami berharap laporan ini dapat segera di tanggapi dengan serius oleh pihak Kepolisian, tegas orang tua korban.
“Dan kami meminta agar pelaku dapat di hukum seberat-berat nya, karena anak kami udah sangat trauma dengan kejadian tersebut,” ujarnya.
Salah seorang Siswi Yang inisial C mengatakan, “awal mula kami takut melapor, tapi saat itu kami udah kesal dan teman kami nangis, karena buah dada teman kami tersebut di remas-ramas oleh bapak (He).”
“maka pada saat itu saya langsung lapor kepada guru kami. ucap siswi tersebut.
“Bahkan ada salah seorang teman kami yang jilbab nya dibuka dan tangan Pak Guru (He) tersebut masuk dalam bajunya dan payudara teman saya di remas-remas,” ungkap salah seorang siswi tersebut.
Lebih jauh ia mengatakan “kami memang ada di panggil oleh guru, ada 24 orang anak, dan pada pertemuan tersebut kami disuruh damai dan meminta maaf sambil disuruh tanda tangan sebuah surat yang kini mungkin dipegang sama pak guru.
“Dalam rapat tersebut ada pak Sakijo, Susilo dan Bapak Oknum guru tersebut Bapak He, pungkasnya.
Informasi yang dihimpun awak Media ini, sampai berita ini ditayangkan,Oknum Guru He dan Korban masih dalam proses pemeriksaan pihak Kepolisian Sektor Putri Hijau. (Bayu Setiawan)






