UTARAUPDATE.COM, Bengkulu Utara (28/04/26) – Viralnya pemberitaan mengenai dugaan intimidasi yang diduga dilakukan oleh Kepala Sekolah terhadap seorang siswi di Bengkulu Utara membuat salah seorang wali murid yang paham situasinya ikut bicara.
“Sebenarnya yang mas beritakan itu, salah satunya adalah anak Saya Mas,” ucap Seorang wali murid pada saat beliau mendatangi pimpinan media ini di pondok PMO.
“Cerita yang sebenarnya itu persoalan anak-anak yang sudah di selesaikan oleh pihak sekolah dan sudah dilakukan proses perdamaian,” ucap wali murid.
“Kejadiannya sudah lama, dulu di sekolah anak saya bersama dengan ke lima orang temannya hendak mengeroyok salah seorang siswa, disaat tersebut siswi yang disebut sebut terintimidasi dalam berita sebelumnya datang untuk melerai pertikaian antar siswa tersebut,” ungkapnya.
“Akan tetapi, bukannya melerai, tapi siswi tersebut justru jatuh pingsan tanpa disentuh ataupun disenggol oleh anak-anak, dan seketika itu perkelahian terhenti dan anak-anak sibuk menyelamatkan siswi yang pingsan tersebut,” jelasnya.
“Namun yang disayangkan justru ketika siswi tersebut siuman dari pingsan, siswi tersebut malah menuduh anak-anak kami melakukan tindak kekerasan terhadap dirinya, ada yang dituduh memukul dengan tangan, ada yang dituduh menendang, ada yang dituduh memukul dengan kursi, bahkan ada yang dituduh melemparkan bola basket ke muka siswi tersebut,” sambungnya.
“Bahkan pada saat mediasi siswi tersebut mengaku kalau pada saat dirinya pingsan, dirinya merasakan sakit dipukuli dan ditendang oleh ke enam orang anak-anak siswa yang hendak mengeroyok seorang siswa yang tinggal di daerah unit (kecamatan padang jaya),” imbuhnya.
Wali murid menambahkan, “upaya yang dilakukan pihak sekolah sudah maksimal, ke 6 anak-anak kami sudah berdamai dengan temannya yang berasal dari Unit dan sudah didamaikan oleh pihak sekolah dalam surat perjanjian damai, dan bahkan saat ini pun mereka sudah berteman akrab.”
“Namun yang jadi masalah sebenarnya justru siswi yang pingsan yang mengaku menjadi korban tidak ingin berdamai, padahal tidak ada seorangpun yang menyentuh ataupun menyenggol siswi tersebut,” tambahnya.
“Pak kepsek sudah 2 kali melakukan mediasi perdamaian, dalam perdamaian pun sudah dikatakan kalau kami selalu orang tua para siswa yha dituduh sanggup bertanggungjawab untuk biaya pengobatan siswi tersebut bahkan kepsek pun sudah menanyakan apabila ada tepung setawar yang diminta keluarga siswi tersebut asalkan tidak memberatkan akan di akomodir, yang penting permasalahan anak-anak selesai,” bebernya.
“Akan tetapi kakak perempuan siswi tersebut mengatakan bahwa mereka tidak mau damai, dan akan melanjutkan persoalan ini ke kepolisian,” Lanjutnya.
“yang jelas kami selaku orang tua sudah berupaya untuk melakukan upaya damai, bahkan ketika seorang wali murid teman anak saya menjenguk ke Rumah Sakit, pihak keluarga siswi tersebut mengatakan tidak ada satupun dari kami yang menjenguk siswi tersebut,” katanya.
“Bahkan meskipun kami tau anak-anak kami tidak ada menyentuh ataupun menyenggol siswi tersebut, kamipun sudah mengalah untuk mendatangi rumah kediamannya di Desa Lubuk Sahung untuk melakukan upaya damai, akan tetapi keluarga siswi tersebut tetap tidak mau damai,” tandasnya.
“yang jelas kalau dikatakan Kepala Sekolah ada melakukan intimidasi, saya bisa menjamin kalau itu hanya pengakuan bohong saja, seperti cerita bohong saat ke empat anak kami dari ke enam orang anak-anak yang mereka adukan ke kepolisian,” tegasnya.
“Apakah lantaran seorang anak tersebut adalah anak dari sepupu orang yang jadi dekingan siswi tersebut untuk melapor, dan seorang anak lainnya merupakan anak dari atasan orang yang menjadi dekingan tersebut,” sebuah pertanyaan mendasar keluar dari mulut wali murid.
Sementara hingga berita ini ditayangkan, siswi yang disebut-sebut sebagai korban intimidasi Kepala sekolah belum dapat dihubungi untuk dikonfirmasi lebih lanjut.
Sampai berita ini ditayangkan, para pihak belum dapat terkonfirmasi. (Bayu Setiawan)






